Tags

, ,

Aslinya sih saya sedang jenuh ngurusin yang namanya penelitian dan baca jurnal, jadi saya berusaha mengalihkan perhatian dengan melakukan hal2 lain :D. Saya mo sharing hasil baca buku “The Danish Way of Parenting” aja deh:

Sebelum mulai, share dulu tentang Denmark ya….

Denmark merupakan salah satu negara di Skandinavia yang katanya penduduknya termasuk kategori paling bahagia di dunia. Predikat ini udah didapat oleh Denmark sejak 40 tahun lalu gitu katanya (saya juga baru tahu kalo udah selama itu). Nah di buku ini katanya, kunci kebahagiaan orang2 Denmark itu ada pada cara mereka mendidik anak2nya. Oh iya, penulis buku ini asli orang Amerika dan dibesarkan di Amerika, kemudian menikah dengan suaminya yg orang Denmark. Jadi, buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis dan pengalaman suaminya ya. Maksud saya, jangan berdebat tentang “Aaah, kan ini cara mendidik ala orang Barat yang sekuler, mereka ga beragama, dsb”. Tolong perdebatan yang begitu di kesempatan atau forum yang lain saja. Karena tujuan kita ini belajar dari yang baik2 dan kalau dirasa sesuai dengan agama kita ya ambil aja. Soalnya menurut pengalaman saya tinggal di Jepang selama 3 tahun lebih, orang2 Jepang yang kayaknya keren pendidikan anaknya, juga ga semuanya keren kok. Kasus yang ga bener mendidik anak, menelantarkan anak bahkan membunuh anak juga ada. Tapi itu ga menjadikan cara mendidik anak ala orang Jepang jadi salah semua kan? Tolong dibedakan mana yang kasus dan mana yang bukan, udah gitu aja deh.

Balik ke Denmark….

Nah, sebelum memulai belajar tentang Parenting ala Denmark, penulis buku ini pertama2 juga mengajak kita untuk mengetahui “Default Settings” kita masing2. Maksudnya, kenali dulu diri kita sendiri dan darimana sebenarnya kita belajar mendidik anak2 kita. Kalau yang secara alami, pasti kita mengikutin orang tua kita. “Saya dulu dididik begini dan begitu oleh bapak dan ibu saya jadi itu yang saya terapkan ke anak2”. “Lhahh, sebagian besar orang2 di tempat saya gitu kok, buktinya anak2nya hidup2 aja”. Nah, yang kayak gitu yang dimaksud dengan default setting.

Tapi, kemudian kita jadi harus bertanya “Emang default setting itu bener?” “Emang itu yang paling bagus dan baik buat anak2 kita?”. Jadi itulah gunanya belajar!

Udah siap ya….

Di buku ini, teori parenting ala orang Denmark disingkat dengan kata “PARENT”. Kita bahas satu2 ya..

P for Play

Jadi, anak2 di Denmark, dimotivasi untuk banyak bermain. Ingat yaaa, banyak bermain bukan banyakin ikut les ini itu hahahha. Dari bermain ini anak2 kecil belajar untuk mengendalikan diri, mengambil resiko, bergaul dengan anak2 lain dan banyak lagi manfaat lainnya. Dari jurnal2 ilmiah yang saya baca juga, bermain, terutama di luar (outdoor) punya banyak sekali manfaat baik untuk kesehatan fisik maupun mental anak2. Tips untuk Play yang disarankan di buku ini:

  1. Matikan TV dan alat2 elektronik! Biarkan anak2 bermain dengan daya imajinasi mereka.
  2. Sebagai orang tua, ciptakan lingkungan bermain yang kaya dan mendukung semua indra : visual, auditory, tactile, dsb.
  3. Gunakan seni (ga usah yang mahal2 juga bisa kan, misalnya main coret2 pake kertas dan pensil warna).
  4. Biarkan anak2 main di luar rumah, mau di taman, kebon, pantai, hutan, sawah, atau mana saja.
  5. Dan banyak lagi tipsnya :D *males nulis semua

 

A for Authencity

Jadi katanya, anak2 di Denmark itu sejak kecil diajari untuk jujur pada diri sendiri dengan cara mengenali setiap emosi yang dirasakan. Misalnya ketika sedih dan menangis, orang tuanya ga akan marah2, tapi bertanya “Kenapa? Kamu sedih? Sedih kenapa?” dsb, untuk membantu anak2nya mengenali emosi dan kemudian mencoba memberikan saran untuk menyelesaikannya. Naah, katanya, sebelum bisa “mengajari” anak2 untuk mengenali emosi2 itu, orang tua juga harus jujur pada  diri sendiri, mengenali emosinya sendiri dan tidak sok “cool” di depan anak2. Intinya, kalau ibunya marah atau sedih atau kecewa, ya bilang aja, ga usah disembunyi2kan. Tapi ga juga marah2nya diumbar2 kemana2 (mecah2in piring misalnya :D).

Katanya, film untuk anak2 bahkan buku2 anak di Denmark juga ga semuanya isinya “happy ending”. Dari situ anak2 juga belajar bahwa hidup itu ga semuanya indah, ada juga yang ga berjalan sesuai rencana dan harapan. Tapi dari situ kemudian mereka diajari untuk belajar dan menjadi lebih baik.

Oh ya, untuk masalah memuji anak, orang Denmark juga terkenal pelit pujian. Bukan berarti mereka ga memberikan pujian sama sekali, tapi mereka jujur dalam memuji. Misalnya anaknya bikin gambar jelek banget mereka akan bilang “Biasa aja sih, tapi kalo kamu latihan lagi mungkin bisa lebih bagus”. Mereka ga akan bilang “Wooow, jeniuss, kamu berbakat kayak Picasso” (padahal gambarnya kayak benang ruwet :D). Lebih penting lagi katanya, berikan pujian pada anak2 atas proses yang mereka lakukan, bukan pujian pada hasil.

 

R for Reframing

Reframing yang dimaksud di sini adalah melihat segala sesuatu dari beberapa sisi, dan itu tugas orang tua untuk mengajarkan ke anak2. Contoh yang dilakukan orang2 di Denmark:

“Mama, si A itu nakaal, dia merebut mainan aku”

Orang tuanya ga akan langsung marah2 sama si A karena anaknya bilang begitu. Tapi ortu harusnya bertanya

“Emang iya gitu dia nakal? Kan pernah juga dia baik sama kamu, emang menurutmu dia selalu nakal?”

“Dia pernah baik sih, dia pernah juga ngasih aku permen”

“Nah, itu, dia juga kadang baik. Kamu nanya ga kenapa dia merebut mainan kamu? Terus kamu bilang ga sama dia kalo kamu ga suka mainannya direbut?”

“Ga sih, aku langsung marah2 dan pergi”

“Nah, lain kali kalo dia merebut mainan kamu, kamu gimana?”

“Aku mau bilang ke dia, jangaan, ini aku lagi main”

“Nah, gitu aja, atau kamu ajak dia main bersama2 gimana?”

Kayaknya sih contohnya gampang, tapi ini prakteknya mungkin susah hahhaha.

Reframing atau melihat sesuatu dari berbagai sisi udah diajarkan sejak kecil di Denmark, jadi orang2 Denmark dikenal sebagai orang2 yang “Realistic Optimist”, artinya mereka optimis tapi mereka juga lebih realistis, terutama dalam menghadapi tantangan hidup (cieee).

 

E for Empathy

Anak2 di Denmark, diajarkan untuk selalu berempati pada orang lain. Ga hanya di rumah, bahkan di sekolah mereka juga punya banyak kegiatan untuk melatih empathy sejak dini. Contoh yang diajarkan oleh orang tua di Denmark:

“Eeh, si A nangis, kira2 kenapa ya dia nangis?”

“Si B tadi marah2, kamu tahu ga kenapa dia bisa semarah itu?”

Jarang ada ortu di Denmark yang bilang:

“Jangan nangis gitu, kamu ga ada alasan buat nangis, udah berhenti!”

“Itu anak dari tadi marah, nyebelin”

“Kamu tuh harus senyum, jangan cemberut gitu, senyuuum, senyuuum!”

 

Wkwkwkwwkw, contoh yang di buku ini lucu2 :D

Salah satu pilar yang diajarkan orang2 Denmark pada anak2nya adalah, tidak menjudge anak2 mereka sendiri, anak2 orang lain, anak2 dari keluarga lain dan siapapun.

 

N for No Ultimatums

Ortu di Denmark mendidik anak2nya tanpa memberi ancaman2. “Eh kamu, udah dibilangin jangan berisik, awas mama cubit”

“Kamu bisa rapi ga sih? Dibilangin dari tadi suruh rapiin mainan, ga dirapiin juga, mau dibuang aja mainannya?”

Jadi gimana supaya ga pake ngancam2?

  1. Stay calm dan ingat2 apa yang benar2 ingin diajarkan ke anak2. Ajarkan pelan2, kalau pertama belum mau, ingatkan lagi tapi jangan terlalu dipaksa. Ingatkan terus nilai2 yang ingin diajarkan.
  2. Berikan jalan keluar, hindari power struggles.
  3. Jelaskan aturan2 yang harus dipatuhi anak dan minta mereka untuk mengerti dan mau bekerja sama

T for Togetherness

Orang2 Denmark punya kebiasaan untuk selalu berkumpul dengan keluarga sesibuk apapun mereka. Di akhir hari, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk makan, ngobrol atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Selain dengan keluarga sendiri, mereka juga berkumpul dengan keluarga besar. Aturan utama ketika berkumpul dengan anggota keluarga adalah:

  1. Matikan HP dan TV dan laptop yang menjadi distraksi!
  2. Lupakan sejenak masalah2 kerjaan, kantor, karena ini waktu untuk keluarga
  3. Jangan banyak mengeluh
  4. Siapkan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama2
  5. Jangan ngomongin hal2 yang bisa menjadi perdebatan, misal masalah politik, nanti ada waktunya sendiri
  6. Jangan ngomongin kejelekan orang lain
  7. Bercerita dan mengingat2 pengalaman2 seru dan lucu di masa lalu
  8. Berterima kasih pada anggota keluarga yang ada saat itu

 

*Doooh, ini teori parenting bagus dan ideal banget, prakteknya mungkin susah. Tapi ga ada salahnya mencoba kan ya?

*saya belum bisa praktek, jadi setor ilmu dulu :D