Mountain trip (3) – Mount Yoro – air terjun dan puncak misterius penuh nyamuk –

Rasanya pingin ngakak duluan kalau inget pengalaman mendaki ke Mt. Yoro ini (upss).

Kali ini saya pergi bareng Vina, Bia dan Lutfhan. Bia dan Lutfhan ini waktu itu “mahasiswa baru”, anak double degree Mie-Unpad, jadi mau gak mau “dipaksa” buat ikut club naik gunung hahaha. Mereka bahkan dengan “terpaksa” beli sepatu gunung juga lah akhirnya wkwkkw :P

Mt. Yoro adalah salah gunung yang jadi bagian Suzuka Sanbyaku (pegunungan Suzuka), yang lokasinya di Gifu-prefektur (sebelahnya Mie-prefektur) tempat kami tinggal dan belajar. Katanya sih, ada air terjun yang keren di bawahnya dan gunungnya juga ga tinggi2 banget. Makanya kami nyobain ke sana :D

Kami berangkat naik kereta pagi2 sekali dari Edobashi stasiun, oper di stasiun Kuwana, lalu naik kereta yang menuju Ogaki.

Nyampai di stasiun, bingung. Kirain trail headnya deket dari stasiun, ternyata oh ternyata. Dari stasiun kami harus jalan kali lewat jalan beraspal dan lumayan nanjak, menuju Yoro Park (tempat yang ada air terjunnya). Nyampai di depan Yoro Park, ketemu Bapak2 yang sedang lari2 pagi, dan keluarlah jurus ampuh “malu bertanya sesat di jalan”. “Sumimasen, Yoro no touzanguchi-tte doko desu ka?” (Maaf, trail headnya Mount Yoro ada dimana ya?”

Continue reading

Berpuasa di Negeri Sakura (part 1)

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini udah dapat seminggu ya… Btw kok rasanya cepet bangeeet…

Tahun ini, tahun ketiga saya berpuasa dan insyaAllah juga ber-Idul Fitri di Jepang. Duuuh, dulu kayaknya ga kebayang ya puasa di negara yang mayoritas non muslim.

“Sahurnya gimana?”

“Buka puasa sama siapa?”

“Emang ada yang jualan takjil?”

“Kalo mupeng es degan gimana?”

“Sholat Id ada tempatnya ga?”

“Sedih donk ga bisa pulang kumpul2 bareng keluarga”

dan banyak lagi kekhawatiran2 lainnya.

Tapi ternyata, Ramadhan itu simpel dan sederhana, tergantung kita ga sih?

Jadi gimana ceritanya puasa di Jepang?

Continue reading

3 tahun kemudian (part 2)

Lihat temen yang mulai masa PhD sama dengan saya, tapi papernya sudah accepted di salah satu jurnal internasional, entah kenapa saya merasa “iri”. Lihat junior saya anak Master yang papernya sudah publish di jurnal internasional, saya merasa worthless. Banyak orang yang takut tidak mampu kuliah sampai PhD, tapi orang yang sudah terlanjur “nyebur” kuliah PhD lebih takut lagi: takut tidak bisa selesai.

Kira-kira begitulah yang terjadi setelah hampir 3 tahun ini saya tinggal dan belajar di Jepang. Tapi selain itu, kira2 apalagi yang saya dapat? Kenapa kesannya saya cuma berpikiran yang jelek2 saja ya? :D.  Coba saya tulis, kira2 hal2 positif apa ya yang sudah saya dapatkan dan pelajari selama tinggal di Jepang?

Continue reading